PP-IPTEK Dorong Generasi Muda TertarikTerhadap Iptek
unpi/infopublik • Selasa, 01 Oktober 2019 13:37 Wib
Sumber Foto : ristekdikti
UNPI-CIANJUR.AC.ID - Pusat Peragaan Iptek (PP-IPTEK), Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidik Tinggi (Kemenristekdikti) terus berupaya mendorong anak-anak atau generasi muda Indonesia untuk menyukai terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Salah satunya dengan menyelenggarakan Kompetisi Roket Air Nasional (KRAN) 2019, pada taggal 28-29 Sepetmber 2019.
Penyelenggarannya dilakukan di dua lokasi, yaitu 28 September 2019 bertempat di Ruang Marrie Currie Gedung PP-IPTEK, TMII Jakarta Timur, dimana peserta mendapatkan pengarahan tentang ketentuan-ketentuan dalam KRAN, dan pembuatan Roket Kompetisi sebanyak dua buah roket air. Kemudian, 29 September 2019 kompetisi dilakukan di Lapangan Rotunda, Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok.
"Kompetisi bergengsi ini, kita lakukan bukan soal mereka jadi ahli dirgantara, itu tidak. Kita lakukan ini yang terkait dengan anak-anak. Intinya anak-anak suka terhadap sains. Kenapa roket air?, karena roket air ini menarik, seperti pesawat terbang beneran, badan roket dilengkapi dengan sirip roket yang terbuat dari bahan infraboard atau sterofoam tebal yang dipotong dan dibentuk seperti sirip roket pesawat ulang alik," kata Direktur PP-IPTEK, Mochammad Syachrial Annas di sela-sela KRAN 2019 di Lapangan Rotunda Kampus UI, Depok, Minggu (29/9).
Selain kegiatan roket air, masih banyak lagi peragaan dan program sains yang disajikan oleh PP-IPTEK kepada masyarakat dalam memenuhi kebtutuhan pengetahuan Iptek masyarakat.
"Tahun depan, kita juga berencana akan adakan kegiatan pesawat terbang karet (Pesawat Terbang Karet oleh PT DI), sudah ada beberapa daerah, sekitar 5 atau 6 daerah sudah mengadakan. Kita akan tarik untuk eksibisi secara nasional ke Jakarta. Kalau semua sudah ikut, bisa kita adakan lomba berjenjang. Seperti roket air ini juga begitu. Bertahap kita adakan, lama-lama ke tingkat nasional, dan juga ke tingkat internasional," paparnya, dilansir Infopublik.
Disebutkan, dirinya sudah menawarkan ke semua daerah, kementerian, semua institusi yang punya lomba-lomba melibatkan anak-anak sekolah, diharapkan menyerahkan kepada PP-IPTEK untuk diselenggarakan. "Seperti roket air ini dulunya punya LAPAN, dan ada lagi saya sudah minta LAPAN namanya RUM (Roket Uji Muatan). Roket itu sudah pakai PVC, terbangnya bisa sekitar 200-an meter. “Kalau kita meluncurkan di atas nya penerbangan dikosongkan, karena kalau kena pesawat dikhawatirkan bisa meledak," paparnya.
Ia menambahkan, dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan di PP-IPTEK pihaknya juga menggandeng kampus-kampus yang ada di Indonesia, dan itu sesuai dengan permintaan Sekjen Kemenristekdikti, yaitu untuk kegiatan di PP-IPTEK agar melibatkan kampus-kampus.
"Kami sudah mengunjungi politeknik-politeknik untuk melihat produk-produk hasil inovasi mereka. Kalau masih invensi silahkan di bawa ke tempat kami, kalau kampusnya lebih dekat dengan Science Center yang lokasinya lebih dekat, silahkan bawa ke sana. Kami sudah menyurati dan mereka setuju," kata Syachrial.
"Bahkan saya sudah melakukan presentasi di 43 Politeknik di Indonesia, sewaktu kumpul di Bali beberapa waktu lalu, semuanya sepakat. Kemudian kita lihat lagi, bahwa kegiatan ini harus diketahui atau dilihat oleh banyak orang, maka kita pamerkan kegiatan ini agar dilihat banyak orang. Saya melihat lapangan yang besar ada di UI, dan di sini ada kegiatan car free day pada tiap hari minggu. Maka di sini kita dipilih untuk kagiatan KRAN 2019 ini," terangnya.
Kalau memungkinkan, tahun depan akan diadakan di kawasan Monas, Jakarta Pusat, karena tempatnya luas, sehingga masyarakat bisa melihatnya.
"Target kita mengirimkan enam pemenang KRAN 2019 ke Kompetisi Roket Air Internasional di Jepang, namanya kompetisi, pertama harus menang, dan yang kedua pubikasi internasional, karena kita juga berperan di ajang internasional. Bahkan dari cerita anak-anak yang diberangkatkan, dan mereka yang menang dalam kompetisi ini bebas tes masuk ke SMA. Kebetulan kegiatan apapun di PP-IPTEK pakai sertifikat, kita mengeluarkan sertifikat itu hanya diminta dilegalisir diterima sebagai salah satu prestasi secara nasioal," ungkapnya.