UNPI • UNIVERSITAS PUTRA INDONESIA
Grebeg Sudiro, Perpaduan Budaya Tionghoa-Jawa di Solo
Grebeg Sudiro, Perpaduan Budaya Tionghoa-Jawa di Solo
glg/nationalgeographic • 13 Feb 2018 13:00
Grebeg Sudiro, Perpaduan Budaya Tionghoa-Jawa di Solo
Sumber Foto : kompas.com
UNPI-CIANJUR.AC.ID - Gunungan dari kue keranjang diarak sepanjang Jalan Sudiroprajan. Kemeriahan semakin terasa ketika ada atraksi barongsai, reog ponorogo, kesenian Jawa lain, serta hiasan lampion. Pemandangan langka ini dapat disaksikan di Solo, Jawa Tengah ketika Grebeg Sudiro.
 
Perayaan ini umumnya diselenggarakan tujuh hari sebelum Tahun Baru China. Segala kemeriahan Grebeg Sudiro adalah lambang akulturasi tradisi Tionghoa dan Jawa, yang melebur dalam suasana hangat toleransi. Namun Grebeg Sudiro bukan cuma lambang, ada fungsi lain dari perayaan lintas etnis ini.
 
Dosen Prodi Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Heri Priyatmoko mengatakan, "Tampilan apik yang bertempat di komplek Pasar Gedhe itu juga merupakan jembatan sejarah mengulik riwayat orang-orang China di Solo sudah ada jauh sebelum Keraton Kasunanan berdiri walau jumlahnya belum banyak."
 
Komunitas Tionghoa di Solo hadir untuk berdagang, jelas Heri seperti dilansir Nationalgeographic.co.id. Peradaban besar Bengawan Solo melibatkan jaringan anak sungai telah melahirkan ekosistem Pasar Gedhe yang mewadahi perdagangan lintas etnis.
 
Ini juga yang menjadi salah satu alasan mengapa ibu kota Keraton Mataram dari Kartasura dipindahkan ke Desa Sala ialah adanya keramaian aktivitas niaga yang tidak jauh dari lokasi ibu kota yang baru. Pihak istana berharap dapat memungut pajak untuk biaya operasional kerajaan. (Soedarmono 2004).
 
Situasi ini mendorong pertumbuhan komunitas Tionghoa di Solo yang tergerak mengadu nasib dan bermukim di kota. Dalam perkembangannya, mereka bertempat tinggal di wilayah Kasunanan, yaitu Ketandan depan Pasar Gedhe, Balong, Mijen, Kepanjen, Samaan, Sudiroprajan, dan Limolasan," kata Heri.
 
Akan tetapi ada yang membedakan antara komunitas Tionghoa yang tinggal di Balong dan daerah lain. Dekade pertama abad ke-20, komunitas Tionghoa yang tinggal di Balong merupakan golongan ekonomi menengah ke bawah.
 
Dijelaskan pada periode tersebut sebagian besar wilayah Balong masih berupa tanah lapang yang kumuh. Di lapangan itu telah dihuni para buruh, baik Tionghoa maupun orang Jawa yang mendirikan rumah bilik.
 
"Dunia industri di Solo pengujung abad ke 21 mulai berkembang sebagai imbas dari kebijakan masuknya modal asing dan modernisasi yang dilakukan pemerintah kolonial.
 
Tanah lapang yang kumuh serta dipenuhi rumpun bambu berfungsi untuk tempat pembuangan tulang dari rumah jagal di Jagalan. Di Balong diangkat seorang pemimpin dengan jabatan Kapiten China yang bertanggung jawab kepada raja maupun Belanda.
 
Heri menjelaskan dalam penelusuran ilmiah Riyadi (2011) daerah Balong semakin menonjolkan keunikan, lantaran di kawasan Pecinan orang Jawa diberikan izin leluasa di daerah tersebut. Lantas terjadi interaksi harmonis berujung kawin campur. Terciptalah akulturasi dari perkawinan campur tersebut.
 
Camilan dari bahan kacang dan gula jawa, ampyang menjadi lambang akulturasi yang banyak dikaitkan sebagai lambang masyarakat Balong.
 
"Dari sekian pemukiman etnis Tionghoa di Solo, hanya komunitas Tionghoa Balong yang mampu berakulturasi dengan budaya Jawa sehingga komunitas ini ikut memperkaya komposisi komunitas masyarakat di Solo," kata Heri.
 
Beda dengan komunitas Tionghoa lainnya di Solo yang kental dengan nuansa bisnis, komunitas Tionghoa di Balong terkenal karena campuran budaya dengan pembauran yang baik. Tahun 1998, Balong menjadi lokasi komunitas China yang luput dari aksi kekerasan pada Mei 1998.  
 
Stigma negatif kerusuhan rasial pada 1743, 1911, 1965, 1980, dan 1998 di Solo perlahan dikikis dengan jalur kultural. Grebeg Sudiro menurut Heri adalah bukti tingginya kesadaran masyarakat Solo untuk bahu membahu, menghilangkan stigma negatif.
 
"Grebeg Sudiro bagaikan panggung untuk menguatkan ikatan persaudaraan masyarakat kota yang majemuk, strategi kebudayaan yang jitu. Barangkali perlu ditiru oleh kota-kota lain demi merayakan pembauran dan menguatkan tali hubungan lintas etnis yang harmonis," kata Heri.
Berita Terkini
20 Universitas Terbaik di Asia Tenggara 2018
15 Feb 2018 15:00 • glg/timesindonesia
Sejarah Setir kanan dan Setir Kiri
15 Feb 2018 14:00 • glg/bbcindonesia
Banyak Kepala Daerah Kena OTT KPK, Mendagri Terpukul
15 Feb 2018 13:18 • glg/cnnindonesia
Berita Populer
Pro-Kontra Gerakan Anti Hoax
01 Feb 2017 14:42 • glg/antara
Olahraga +
Olimpiade Pyeongchang Kena Serangan Siber
13 Feb 2018 10:00 • glg/antara
12 Bintang MU Pemakai Kostum Nomor 7
22 Jan 2018 12:00 • glg/antara
Politik dan Hukum +
Konstitusi Menjamin Kebebasan Beragama
14 Feb 2018 14:00 • glg/setneg
KPK Tak Perlu Izin Presiden untuk Panggil Anggota DPR
14 Feb 2018 10:00 • glg/cnnindonesia
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi +
Fitur yang Paling Dicari di Ponsel
15 Feb 2018 12:00 • glg/antara
Blokir Para Pencuri WIFI dengan Aplikasi Ini
13 Feb 2018 14:41 • glg/netralnews
Sosial +
Sejarah Setir kanan dan Setir Kiri
15 Feb 2018 14:00 • glg/bbcindonesia
Banyak Kepala Daerah Kena OTT KPK, Mendagri Terpukul
15 Feb 2018 13:18 • glg/cnnindonesia
Pendidikan +
20 Universitas Terbaik di Asia Tenggara 2018
15 Feb 2018 15:00 • glg/timesindonesia
Mahasiswa harus Kritis Terhadap Informasi
14 Feb 2018 13:11 • glg/antara

PROGRAM STUDI UNPI

Universitas Putra Indonesia, saat ini memiliki 4 fakultas

Menyiapkan sarjana di bidang manajemen yang mampu mengelola perusahaan dalam proses pemasaran, sumber daya manusia serta mampu menyelesaikan masalah perusahaan.
Menyiapkan sarjana dalam bidang teknik yang mampu menguasai dan menyelesaikan masalah dengan komputer dan berperan sebagai pembuat perangkat lunak komputer
Menyiapkan sarjana yang mampu mencari, mengolah, menulis dan menyampaikan berita secara efektif melalui media massa yang sesuai dengan kode etik jurnalistik
Menyiapkan Sarjana dalam bidang Sastra Inggris yang mampu mengembangkan lembaga kerja yang menggunakan komunikasi lisan dan tulisan dalam Bahasa Inggris