UNPI-CIANJUR.AC.ID - Banyak perusahaan di Indonesia mengaku lebih dari setengah pendapatan mereka didongkrak dari arus-arus digital. Hal ini diakui oleh hampir 70 persen dari 200 bisnis yang disurvei di Indonesia dari survei Evolution dari Pure Storage.
Muhammad Faisal, Presiden Direktur PT Lintas Teknologi Indonesia dalam diskusi bertajuk 'Business Transformation Through Technology', di Jakarta, mengatakan, "Hasil ini lebih tinggi dari angka rata-rata yang tercatat untuk kawasan Asia Pasifik dan Jepang, yakni sebesar 46 persen."
Adapun teknologi-teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk inovasi itu seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), serta machine learning.
Hal serupa diamini juga oleh pelaku bisnis lain di seluruh dunia. Sebab, 79 persen responden menganggap bahwa untuk mempercepat inovasi, bisnis perlu bergantung pada layanan digital.
Sebanyak 71 persen responden menganggap langkah inilah yang akan membuat bisnis mereka tetap kompetitif di kancah persaingan pasar yang kian sengit.
Gencarnya digitalisasi ini juga diharapkan bisa membawa imbas yang cukup signifikan dari sisi ekonomi di Indonesia.
Faisal menambahkan, "Indonesia diharapkan bisa meraup hingga US$150 miliar per tahun pada 2025." Meski demikian, Faisal juga menyebut bahwa ada lima isu yang harus ditata untuk membantu mendorong transformasi digital di Indonesia.
Ia mengatakan, "Kelima hal tersebut adalah infrastruktur/standarisasi, legal, ekonomi, pembangunan serta sosial dan budaya."
Survei independen ini menjaring lebih dari 9.000 responden yang berasal dari kalangan pemimpin IT di organisasi-organisasi di seluruh dunia, mencakup 3.000 orang yang berasal dari perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik dan Jepang.